Sabtu, 11 Februari 2012

Nomor Punggung Abadi untuk Sang Legenda-Legenda Sepakbola

Nomor punggung dalam dunia sepakbola menjadi sesuatu yang identik dengan posisi pemain di lapangan. Misalnya saja nomor punggung 9 untuk seorang penyerang (striker), nomor 10 untuk gelandang (midfielder), nomor 2 dan 3 untuk pertahanan (defender), dan nomor 1 untuk penjaga gawang (goal keeper). Meskipun sebenarnya, hal itu bukanlah sebuah aturan baku, namun itu sudah menjadi kebiasaan yang hidup di dunia sepakbola.

Berkaitan dengan nomor punggung pemain sepakbola, sudah terdapat beberapa pemain yang nomor punggungnya diabadikan oleh klub dimana mereka bermain. Banyak pertimbangan, mengapa klub mengabadikan/memuseumkan nomor punggung tersebut dan menjadikan pemainnya sebagai legenda.

Saat ini lagi marak dibicarakan oleh penikmat dan pengamat sepakbola tentang legenda Juventus Alessandro Del Piero. Isu beredar saat ini bahwa kemungkinan besar Juventus akan memuseumkan nomor punggung sepuluh hanya milik sang maestro Alessandro Del Piero. Konsekuensinya jika nomor dimuseumkan, maka kedepannya tidak akan ada lagi pemain yang menggunakan nomor tersebut sepanjang masa.

Terlepas dari kabar Del Piero, sebelumnya sudah ada beberapa pemain yang nomor punggungnya dimuseumkan oleh klub sepakbolanya masing-masing.

1. Franco Baresi, No. 6 AC Milan (Italia)

Franco Baresi yang lahir pada 8 Mei 1960 merupakan salah satu legenda sepakbola AC Milan (Italia). Baresi berposisi sebagai defender dan menghabiskan seluruh karir sepakbolanya untuk bermain dengan Ac Milan sebanyak 629 pertandingan dan mencetak gol sebanyak 31 gol. Banyak prestasi yang Baresi torehkan kepada Ac Milan diantaranya juara Serie A Italy, European Cup (Liga Champion), dan Intercontinental Cup sebelum dia memilih untuk pension/gantung sepatu di umur 37 tahun. Dengan dedikasi tersebut, Ac Milan pun akhirnya memensiunkan No. 6 yang dipakai Baresi sebagai penghargaan atas pemain tersebut.

2. Diego Armando Maradona, No. 10 Napoli (Italia)

Napoli merupakan klub di Serie A Italy yang belum pernah merasakan gelar juara Serie A sejak klub tersebut dibentuk. Hingga pada akhirnya Diego Armando Maradona bergabung pada tahun 1984, dan sejarah langsung ditorehkan. Tidak tanggung-tangung gelar Serie A mampu dirasakan oleh Napoli sebanyak dua kali yaitu di musim 1986/1987 dan 1989/1990. Beberapa gelar lain juga diraih diantaranya Piala Italia dan hampir saja untuk Piala UEFA. Sebagai wujud penghargaan rakyat Napoli kepada sang legenda, mereka pun membuat patung Maradona di tengan kota dan nomor punggung 10 dinobatkan hanya untuk dirinya hingga tak ada pemain lagi yang memakai nomor tersebut. Maradona sebenarnya memperbolehkan No. 10 digunakan lagi oleh pemain Napoli terutama juniornya yang juga berasal dari Argentina Ezequiel Lavezzi, namun Lavezzi menolak dengan alasan nomor itu akan selalu tetap dihargai sebagai milik sang legenda Diego Armando Maradona. AFA sebagai lembaga tertinggi sepakbola Argentina juga sempat ingin memensiunkan nomor punggung 10 timnas Argentina untuk Maradona, namun akhirnya tidak dilarang oleh FIFA.

3. Bobby Moore, No. 6 West Ham United (Inggris)

Dia bernama lengkap Robert Frederick Chelsea “Bobby” Moore yang lahir pada 12 April 1941 adalah pesepakbola Inggris yang menjadi kapten Timnas Inggris saat menjuarai Piala Dunia 1966. Sebenarnya Moore sempat bermain di beberapa klub, namun klub yang terlama dibelanya adalah West Ham United (1958-1974). Dia pernah membahwa West Ham United meraih beberapa gelar misalnya FA Cup, European Cup, dan Winners Cup. Di Timnas Inggris, Moore sempat memiliki rekor penampilan terbanyak dengan 108 pertandingan sebelum rekor tersebut dipatahkan oleh Peter Shilton dengan 125 pertandingan. Pada 24 Februari 1993, Booby Moore meninggal dunia dan beberapa waktu kemudian pihak West Ham United mengumumkan untuk memensiunkan nomor punggung 6 milik Bobby Moore.

4. Johan Cruyff, No. 14 Ajax Amsterdam (Belanda)

Hendrik Johannes Cruyff yang lahir pada 25 April 1947 merupakan pesepakbola Belanda yang menjadi salah satu pilar Total Football rancangan Rinus Michels. Cruyff memulai karir sepakbolanya di klub Belanda yaitu Ajax Amsterdam. Dia bermain sebanyaj 240 kali dengan catatan 190 gol sebelum pindah ke Barcelona (Spanyol). Ketika bermain untuk Ajax, dia menorehkan beberapa gelar seperti juara Eredivisie, KNVB Cup, European Super Cup, Intercontinental Cup, dan European Cup. Setelah melanglang buana di berbagai klub di dunia, Cruyff memilih kembali untuk bermain bersama Ajax sebelum kemudian pindah ke Feyenoord. Pada tahun 2007, Ajax Amsterdam memutuskan untuk memensiunkan nomor punggung 14 sebagai penghargaan untuk Johan Cruyff.

5. Marc-Vivien Foe, No.23 Manchester City (Inggris)

Marc Vivien Foe yang lahir pada 1 Mei 1975 adalah gelandang Timnas Kamerun yang sempat berkarir di beberapa klub Inggris dan Perancis. Di Timnas Kamerun, Foe memegang 64 pertandingan dengan catatan 8 gol. 26 Juni 2003, Foe ikut serta dalam skuad Kamerun yang berkompetisi di ajang Piala Konfederasi FIFA di Perancis. Foe sempat bermain di dua pertandingan dan ketika menghadapi Kolombia di semifinal, dia kembali dimainkan. Di tengan pertandingan, tepatnya pada menit ke-72, Foe tiba-tiba pingsan di tengah lapangan. Ia ditarik keluar dan sempat mendapatkan perawatan selama 45 menit, namun nyawanya tidak tertolong. Setelah kematiannya kemudian diumumkan bahwa penyebab kematiannya adalah Hypertrophic Cardiomyopathy. Manchester City kemudian menyampaikan bahwa mereka memuseumkan pemakaian nomor punggung 23 yang pernah dipakai oleh Foe di Manchester City sebagai bentuk penghargaan, meskipun ketika bermain di Manchester City berstatus sebagai pemain pinjaman.

6. Aldair, No. 6 AS Roma (Italia)

Aldair Nascimento dos Santos mengawali karir bermain sepakbola di negara asalnya Brazil, bersama klub Flamengo. Setelah itu, kemudia dia hijrah ke Portugal untuk bergabung bersama Benfica, sebelum kemudian mendarat di Liga Serie A Italia bersama AS Roma di tahun 1990. Sejak kehadiran Aldair di Roma, tim berlambang serigala ini menjadi salah satu kekuatan baru. Bermain bersama Roma dalam 415 laga dan menyumbang 20 gol menjadi prestasi tersendiri bagi dirinya. Bahkan, sejak Aldair menjadi pertahanan di lini belakang, AS Roma menjelma menjadi tim dengan pertahanan paling solid. Prestasi terbaiknya memberikan double winner bagi Roma di musim 2001 dengan merebut Italian League (Serie A) dan Super Cup yang belum pernah dirasakan sebelumya. Atas dedikasinya tersebut, Roma tak lagi memberikan nomor punggung 6 yang pernah dikenakan Aldair pada siapa pun juga.

7. Paolo Maldini, No.3 AC Milan (Italia)

Bagi Milanisti (pendukung Milan), tiada pemain yang bias mengalahkan defender Paolo Maldini yang memutuskan pension di usia 43 tahun. Maldini adalah pemain yang tidak pernah meninggalkan AC Milan, bahkan karirnya bersama Rosonerri dimulai sejak junior pada tahun 1978, sebeum akhirnya naik tahta ke tim senior pada tahun 1984. Dalam rentang waktu 25 tahun, Maldini telah memperkuat pasukan merah hitam dengan 647 caps dengan torehan 29 gol serta 25 gelar dipersembahkannya. Selain menjadi kapten Milan, putra Cesare Maldini ini juga merupakan kapten Timnas Italia. Atas loyalitas dan dedikasi tersebut, Milan memutuskan nomor punggung 3 yang dikenakan oleh Paolo Maldini dimuseumkan.

8. Robert Enke, No.1 Hannover (Jerman)

Robert Enke (24 Agustus 1977-10 November 2009) adalah penjaga gawang berkebangsaan Jerman yang kematiannya cukup mengejutkan dunia persepakbolaan. Enke meninggal dengan cukup tragis yaitu bunuh diri. Banyak pihak yang menduga bahwa Enke mengalami depresi yang cukup lama. Enke sebenarnya pernah bermain di beberapa klub Eropa, namun sebagian besar karirnya dihabiskan untuk klub Jerman Hannover 96 yang sekaligus menjadi klub terakhirnya. Enke juga pernah bermain di Timnas Jerman dengan catatan 8 kali penampilan. Hannover 96 kemudian memutuskan untuk memuseumkan nomor punggung 1 sebagai bentuk penghargaan kepada Enke.

9. Roberto Baggio, No. 10 Brescia (Italia)

Roberto Baggio yang dilahirkan 18 Februari 1967 di Caldogno bergabung selama empat musim bersama Brescia yaitu sejak 2004 hingga 2004. Namun meski hanya empat musim, prestasi yang diberikan pada klub tersebut telah mengangkat harga diri Brescia di Seri A. Selama empat musim, Baggio bermain sebanyak 95 kali dengan sumbangsih 45 gol. Prestasi mengangkat Brescia menjadi tim yang disegani membuat nomor punggung 10 diistrahatkan seiring dengan pensiunnya Roberto Baggio.




10. Giacinto Faccheti, No. 3 Internazionale (Italia)

Giacinto Faccheti yang lahir pada 18 Juli 1942 adalah seorang pesepakbola Italia. Dia bermain di klub Internazionale untuk seluruh karirnya selama tahun 1960-an dan 1970-an. Menurut catatan, Faccheti bermain sebanyak 634 pertandingan resmi dan mencetak 75 gol. Dia dikenang sebagai “La Grande Inter”, salah satu Attacking Center-Back pertama yang benar-benar hebat. Di tahun 2006 dia meninggal dunia dan dinobatkan sebagai defender paling produktif dan atas dedikasinya internazionale mengabadikan nomor punggung 3 sebagai milik Giacinto Faccheti.


Selain kesepuluh pemain di atas, masi ada beberapa pemain lagi yang juga nomor punggungnya dimuseumkan oleh klubnya masing-masing, seperti:


Miklos Feher, No. 19 Benfica (Portugal)
Henrik Larrson, No.17 Helsingborgs IF (Swedia)


Jose Martinez, No. 22 Deportivo Guadalajara (Meksiko)
Kiatisuk Senamuang, No. 22 Hoang Anh Lai (Vietnam)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar